Ngopi di Batavia: Ketika Kopi Dijual dengan Pikulan
Jauh sebelum hadirnya kedai kopi modern, mesin espresso, atau layanan pesan antar, secangkir kopi di Batavia dijajakan dari bahu seorang pedagang dan meja sederhana di bawah rindangnya pohon. Dua foto arsip dari Leiden University Libraries membuka jendela menuju sejarah yang hampir terlupakan.
Sejarah Kopi Tidak Hanya Tentang Perkebunan
Jika berbicara tentang sejarah kopi Indonesia, pembahasannya hampir selalu berhenti pada perkebunan.
Kita mengenal VOC yang membawa bibit kopi ke Jawa pada akhir abad ke-17. Kita mengetahui bagaimana Priangan menjadi salah satu wilayah penghasil kopi terbesar di dunia. Kita juga memahami bahwa Batavia merupakan pelabuhan utama tempat kopi-kopi Nusantara dikirim ke Amsterdam dan berbagai kota di Eropa.
Namun ada satu pertanyaan yang jarang diajukan.
Bagaimana masyarakat Batavia menikmati kopi setiap hari?
Siapa yang menyeduhnya?
Siapa yang menjualnya?
Dan bagaimana secangkir kopi bisa sampai ke tangan masyarakat biasa?
Jawabannya tersimpan dalam dua foto sederhana yang diabadikan lebih dari seratus tahun lalu.
Ketika Kopi Dijual dengan Pikulan

Salah satu foto dalam koleksi Leiden University Libraries (KITLV 400551) berjudul “Verkoopster van koffie te Batavia” atau Penjual Kopi Perempuan di Batavia. Foto ini diperkirakan dibuat antara tahun 1900 hingga 1935.
Yang langsung menarik perhatian adalah cara perempuan tersebut membawa dagangannya.
Bukan menggunakan gerobak.
Bukan membuka kios.
Melainkan dengan pikulan bambu yang dipanggul di atas bahunya.
Di kedua sisi pikulan tersusun berbagai perlengkapan untuk menjual kopi:
- ketel atau wadah berisi kopi panas,
- cangkir porselen lengkap dengan tatakannya,
- mangkuk kecil,
- wadah penyimpanan bahan,
- serta aneka makanan ringan yang kemungkinan dijual sebagai pendamping kopi.
Menurut metadata KITLV, foto tersebut diklasifikasikan sebagai Street Vendors, Women, dan Sundanese, yang menunjukkan bahwa perempuan dalam foto merupakan seorang pedagang kaki lima perempuan yang diidentifikasi sebagai orang Sunda. Meski demikian, identitas pribadinya tidak pernah dicatat.
Yang tersisa hanyalah profesinya.
Penjual kopi.
Dari Pedagang Keliling Menjadi Warung Pinggir Jalan

Foto kedua memberikan gambaran yang berbeda.
Arsip KITLV 86892 berjudul “Verkoper van koffie te Batavia” diperkirakan dibuat sekitar 1905.
Jika pada foto pertama kopi dijual secara berkeliling, foto kedua memperlihatkan sebuah lapak kopi sederhana di pinggir jalan.
Di bawah rindangnya pohon besar, sebuah meja kayu dipenuhi cangkir porselen, teko, ketel, dan berbagai makanan tradisional.
Beberapa pria berdiri di sekitar meja.
Seorang pedagang lain masih membawa pikulan di sisi kiri.
Sementara di sudut kanan terlihat seorang perempuan bersama dua anak kecil yang sedang duduk menikmati suasana.
Pemandangan ini memperlihatkan bahwa budaya minum kopi pada masa itu tidak selalu dilakukan sambil berjalan.
Sebagian pedagang memilih berhenti di lokasi yang ramai agar pelanggan dapat duduk sejenak sambil menikmati kopi.
Bentuknya memang belum bisa disebut coffee shop.
Namun fungsinya hampir sama.
Ia menjadi tempat orang singgah, berbincang, dan melepas lelah sebelum melanjutkan aktivitas.
Kopi Bukan Lagi Sekadar Komoditas Ekspor
Pada awal abad ke-20, Batavia merupakan pusat perdagangan kopi Hindia Belanda.
Sebagian besar kopi memang dikirim ke luar negeri.
Namun kedua foto ini menunjukkan sisi lain yang sering terlupakan.
Kopi ternyata juga telah menjadi konsumsi masyarakat lokal.
Para pelanggan penjual kopi kemungkinan berasal dari berbagai kalangan.
Buruh pelabuhan.
Kusir delman.
Pedagang pasar.
Pekerja harian.
Penduduk kampung.
Bagi mereka, secangkir kopi bukan simbol gaya hidup, melainkan minuman yang menghangatkan tubuh dan menemani pekerjaan.
Artinya, jauh sebelum budaya nongkrong di coffee shop berkembang, kopi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Batavia.
Coffee Cart Sebelum Zamannya
Jika diperhatikan lebih saksama, sistem penjualan kopi pada masa itu sebenarnya cukup modern untuk ukuran zamannya.
Pedagang membawa seluruh perlengkapan yang dibutuhkan agar dapat langsung menyeduh dan menyajikan kopi di mana pun pelanggan berada.
Konsep ini sangat mirip dengan mobile coffee cart yang kini populer di berbagai kota.
Perbedaannya hanya pada teknologi.
Hari ini barista membawa mesin espresso portabel.
Lebih dari seratus tahun lalu, pedagang membawa ketel, cangkir, dan panci kopi menggunakan pikulan bambu.
Tujuannya tetap sama.
Membawa kopi lebih dekat kepada pelanggan.
Para Pelopor Budaya Ngopi yang Terlupakan
Ada ironi yang menarik dari kedua foto ini.
Kita mengetahui nama perusahaan dagang.
Kita mengetahui nama fotografer.
Kita mengetahui nomor arsip koleksinya.
Tetapi kita tidak mengetahui nama orang-orang yang ada di dalam foto.
Fotografer kolonial hanya menuliskan:
“Penjual Kopi.”
Tanpa nama.
Tanpa cerita.
Padahal merekalah yang setiap hari memperkenalkan kopi kepada masyarakat Batavia.
Mereka adalah penghubung antara hasil perkebunan kopi Nusantara dengan secangkir kopi yang dinikmati rakyat biasa.
Sayangnya, sejarah lebih banyak mengingat kapal-kapal pengangkut kopi daripada orang-orang yang menyajikannya.
Dari Jalanan Batavia ke Kedai Kopi Masa Kini
Lebih dari satu abad telah berlalu.
Kini kopi diseduh menggunakan mesin bertekanan tinggi, ditimbang dengan timbangan digital, dan disajikan dalam gelas berlogo.
Namun jika melihat kedua foto arsip ini, kita akan menyadari bahwa ada satu hal yang tidak pernah berubah.
Kopi selalu menjadi alasan orang untuk berhenti sejenak.
Untuk berbincang.
Untuk beristirahat.
Dan untuk berbagi cerita.
Dulu, secangkir kopi datang dari pikulan seorang pedagang yang menyusuri jalanan Batavia atau dari meja kayu sederhana di bawah pohon.
Hari ini, kopi hadir di coffee shop modern dengan berbagai metode seduh dan cita rasa.
Teknologinya berubah.
Kemasannya berubah.
Tetapi maknanya tetap sama.
Di balik setiap secangkir kopi, selalu ada manusia yang bekerja, berjalan, dan melayani agar kopi itu sampai ke tangan orang lain.
Mungkin itulah warisan terbesar para penjual kopi di Batavia—mereka bukan hanya menjual minuman, tetapi juga meletakkan fondasi budaya ngopi yang masih hidup di Indonesia hingga hari ini.
Referensi Arsip
- Leiden University Libraries – KITLV 400551. Verkoopster van koffie te Batavia. Periode 1900–1935. Public Domain. https://hdl.handle.net/1887.1/item:779773
- Leiden University Libraries – KITLV 86892. Verkoper van koffie te Batavia. Sekitar 1905. Public Domain. https://hdl.handle.net/1887.1/item:914580
Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan dua arsip foto KITLV Leiden University Libraries yang berstatus Public Domain. Informasi mengenai identitas individu dalam foto tidak tersedia; penjelasan mengenai aktivitas perdagangan kopi didasarkan pada metadata arsip dan konteks sejarah Batavia pada awal abad ke-20.


