Baju Batik dan Faktanya
Baju Batik menjadi pakaian yang menarik diperbincangkan di jagat sosial media setelah perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G2O hari ini di Bali. Sekitar 17 pemimpin dunia menghadiri perhelatan KTT G20 setiap satu tahun sekali. Perlu diketahui G20 adalah forum kerja sama multilateral yang terdiri dari 19 negara utama dan Uni Eropa (EU).

G20 merepresentasikan lebih dari 60% populasi bumi, 75% perdagangan global, dan 80% PDB dunia. Anggota G20 terdiri dari Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, India, Indonesia, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Meksiko, Republik Korea, Rusia, Perancis, Tiongkok, Turki, dan Uni Eropa.
Tahun ini adalah tahun Indonesia menjadi presidensi G20. Berbeda dari kebanyakan forum multilateral, G20 tidak memiliki sekretariat tetap. Fungsi presidensi dipegang oleh salah satu negara anggota, yang berganti setiap tahun. Sebagaimana ditetapkan pada Riyadh Summit 2020, Indonesia akan memegang presidensi G20 pada 2022, dengan serah terima yang dilakukan pada akhir KTT Roma (30-31 Oktober 2021).
Sebagai presidensi G20, Indonesia berupaya menonjolkan pakaian batik pada perhelatan tersebut. Namun tidak semua orang mengetahui tentang batik. Kami akan menjelaskan mengenai batik di rangkum dari berbagai sumber.
Why are they all dressed the same – and like that pic.twitter.com/ZVkvC2D7L9
— Sophie Corcoran (@sophielouisecc) November 15, 2022
Baju Batik
Batik adalah kain Indonesia bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain itu, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu yang memiliki kekhasan.
Secara etimologi, istilah “batik” berasal dari bahasa Jawa: ꦲꦩ꧀ꦧꦛꦶꦏ꧀, translit. ambathik yang dihasilkan dari lakuran kata ꦲꦩ꧀ꦧ (amba) yang berarti “lebar” atau “luas” (merujuk kepada kain), dan ꦤꦶꦛꦶꦏ꧀ (nithik) yang berarti “membuat titik” dan kemudian berkembang menjadi istilah bahasa Jawa: ꦧꦛꦶꦏ꧀, translit. bathik, yang berarti menghubungkan titik-titik menjadi gambar tertentu pada kain yang luas atau lebar. Kata dalam bahasa Jawa: ꦧꦛꦶꦏꦤ꧀, translit. bathikan juga dapat bermakna sebagai “menggambar” atau “menulis”.[3] Istilah bathik kemudian diserap kedalam bahasa Indonesia menjadi “batik” dengan menggantikan bunyi huruf “-th” sebagai “-t” dikarenakan orang non-Jawa tidak bisa melafalkannya dengan mudah.
Baca juga: Kebaya Modern dan Faktanya
Sejarah Baju Batik
Sejarah batik dapat dilacak hingga Ponorogo pada abad ke-7 masehi, yang dulu masih dikenal sebagai Wengker. Kemudian batik menyebar ke Jawa bagiab tengah hingga ke wilayah sunda pada abad ke-12.
Batik merupakan budaya asli Austronesia yang kemudian diperkaya elemen Hindu-Budha dari India dan budaya Arab dan Tionghoa.
Batik sudah diekspor keluar negeri sejak abad ke-13. Batik dari Jawa dibawa oleh pedagan Tionghoa hingga Kepulauan Karimat, Siam (kini Thailand), hingga Mosul di Irak. Batik semakin dikenal masyarakat dunia saat buku karya Stamford Raffles berjudul “History of Java” diterbitkan di London pada tahun 1817.
Batik ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) oleh UNESCO sejak 2 Oktober 2009. Sejak saat itu, 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional.
Jenis-jenis Batik
- Batik tulis adalah kain yang dihias dengan tekstur dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
- Batik cap adalah kain yang dihias dengan tekstur dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.
- Batik lukis adalah proses pembuatan batik dengan cara langsung melukis pada kain putih.
Sumber: